MAKALAH
BAHASA INDONESIA
MEMAHAMI PUISI, PROSA DAN PANTUN
Disusun untuk memenuhi tugas
Diklat Teknis Substantif Penulisan Karya Ilmiah
Pembimbing : Drs.Asip Suryadi, M.Ed
OLEH :
KHOIRILLAH
KEMENTERIAN AGAMA
KOTA JAKARTA TIMUR
MTs. JAUHAROTUL HUDA
2017-2018
Kata
Pengantar
Puji dan Syukur kehadirat Allah SWT. yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya
sehingga penulis dapat
menjalankan membuat makalah
sederhana ini. agama, bangsa dan Shalawat dan salam. semoga dilimpahcurahkan kepada
junjungan kita Nabi Muhamad SAW beserta keluarganya dan para
sahabatnya, mudaha-mudaan kelak mendapat syafaat darinya. Aamiin.
Kemudian
dengan selesainya makalah yang penulis buat. Kami mengucapkan terima kasih
kepada:
1.
Bapak
Drs. Asip Suryadi, M.Ed Pembimbing Kegiatan Diklat Teknis Substantif Penulisan
Karya Ilmiah.
2.
Bapak
H. Hasbi Yatim, Kepala Sekolah MTs. Jauharotul Huda yang telah memberi dukungan
moril sehingga penulis dapat mengikuti Kegiatan
Diklat Teknis Substantif Penulisan Karya Ilmiah di MTsn. 28 Jakarta.
3.
Ibu
Suci fajarwati, S. Pd, Editor dalam penulisan makalah ini.
4.
Keluarga
tercinta dan para sahabat yang telah memberikan motivasi kepada penulis baik
moril maupun materil.
5.
Teman-teman peserta Kegiatan Diklat Teknis Substantif Penulisan Karya
Ilmiah. yang
telah memberikan support yang sangat baik.
Semoga
Allah SWT membalas semua jasa-jasa mereka dengan balasan yang terbaik dan
semoga makalah ini bermanfaat bagi yang membacanya, kritik dan saran yang membangun sangat
penulis harapkan.
Jakarta, Desember 2017
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Manusia sebagai makhluk hidup di dunia ini diberikan akal fikiran untuk menciptakan
sesauatu yang indah dan menarik salah satunya adalah dengan bersastra.
Sastra adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan dan seni
kreatif yang obyeknya adalah manusia dan kehidupannya dengan menggunakan bahasa
sebagai mediumnya. Sebagai seni kreatif yang menggunakan manusia dan segala
macam segi kehidupannya maka ia tidak saja merupakan suatu media untuk
menyampaikan ide, teori, atau sistem berpikir, tetapi juga merupakan media
untuk menampung ide, teori, atau sistem berfikir manusia. Sebagai karya
kreatif, sastra harus mampu melahirkan suatu kreasi yang indah dan berusaha
menyalurkan kebutuhan keindahan manusia. Disamping itu, sastra harus pula mampu
menjadi wadah penyampaian ide-ide yang dipikirkan dan dirasakan oleh sastrawan
tentang kehidupan umat manusia (M. Atar Semi, 1993 : 8).
Karya sastra secara umum bisa dibedakan menjadi tiga:
puisi, prosa, dan drama. Beberapa ahli yang merumuskan pengertian puisi
menggunakan berbagai pendekatan. Slamet Mulyana (1956) memberi batasan puisi
dengan menggunakan pendekatan psikolinguistik, karena puisi merupakan karya
seni yang tidak saja berhubungan dengan masalah bahasa tetapi juga berhubungan
dengan masalah jiwa. Dengan pendekatan itu Slamet Mulyana menyimpulkan bahwa
puisi adalah sintesis dari pelbagai peristiwa bahasa yang telah tersaring
semurni-murninya dan pelbagai proses jiwa yang mencari hakikat pengalamannya,
tersusun dengan sistem korespondensi dalam salah satu bentuk (M. Atar Semi,
1993 : 93).
Keberadaan manusia
didalam karya sastra
sangat
menarik untuk dikaji mengingat kedudukanya sebagai subyek sekaligus sebagai
objek. Sebagai subjek artinya hanya manusia yang menghasilkan karya sastra,
sebaliknya manusia juga menjadi objek (materi) karangan sastra dengan manusia tidak mungkin dipisahkan. Oleh
karena itulah muncul batasan bahwa sastra adalah ungkapan pribadi manusia yang
berupa pengalaman, pemikiran, ide dan semangat yang ada pada jiwa manusia itu.
Terlebih juga sastra diajarkan sejak dari sekolah
dasar sampai ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi. Oleh
karena itu kita harus memberikan sesuatu yang dapat membuat sastra tidak menjadi hal yang sulit
untuk dipelajari oleh semua orang. Tulisan sastra akan dapat dinikmati oleh semua kalangan
diantaranya adalah puisi, sastra, dan pantun.
Maka
dengan makalah ini, penulis akan memaparkan bagaimana memahami puisi, prosa dan
pantun. Bagaimana tata cara menulis puisi, prosa dan pantun dan juga makalah
ini disusun dari berbagai macam persepektif dari perbedaan pandangan dari para pakar, tetapi perbedaan itulah
menjadi faktor yang cenderung sangat baik untuk kemajuan manusia itu sendiri.
B. Permasalahan
Permasalahan
yang akan dibahas penulis tentang makalah puisi, prosa dan pantun adalah
sebagai berikut:
a. Apa
yang dimaksud dengan puisi, prosa dan pantun?
b.
Bagaimana cara mengubah puisi dalam bentuk
prosa?
c.
Bagaimana cara menulis puisi dan pantun yang
baik?
C. Tujuan
a.
Menjelaskan apa itu puisi, prosa dan pantun
b.
Menjelaskan tata cara mengubah puisi dalam
bentuk prosa
c.
Menjelaskan tata cara menulis puisi dan
pantun yang baik
BAB II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
Memahami
puisi, prosa dan pantun
1. Memahami Puisi
Secara
etimologis, kata puisi dalam bahasa Yunani berasal dari poesis yang artinya
berati penciptaan. Dalam bahasa Inggris, padanan kata puisi ini adalah poetry
yang erat dengan poet danpoem. Mengenai kata poet, Coulter (dalam Tarigan,
1986:4) menjelaskan bahwa kata poet berasal dari Yunani yang berarti membuat
atau mencipta. Dalam bahasa Yunani sendiri, kata poet berarti orang yang
menciptakan melalui imajinasinya, orang yang hampir-hampir menyerupai dewa atau
yang amat suka kepada dewa-dewa. Dia adalah orang yang berpenglihatan tajam,
orang suci, yang sekaligus merupakan filsuf, negarawan, guru, orang yang dapat
menebak kebenaran yang tersembunyi.
Shahnon Ahmad (dalam
Pradopo, 1993:6) mengumpulkan definisi puisi yang pada umumnya dikemukakan oleh
para penyair romantik Inggris sebagai Berikut:
a.
Samuel Taylor Coleridge mengemukakan puisi
itu adalah kata-kata yang terindah dalam susunan terindah. Penyair memilih
kata-kata yang setepatnya dan disusun secara sebaik-baiknya, misalnya seimbang,
simetris, antara satu unsur dengan unsur lain sangat erat berhubungannya, dan
sebagainya.
b.
Carlyle mengatakan bahwa puisi merupakan
pemikiran yang bersifat musikal. Penyair menciptakan puisi itu memikirkan
bunyi-bunyi yang merdu seperti musik dalam puisinya, kata-kata disusun begitu
rupa hingga yang menonjol adalah rangkaian bunyinya yang merdu seperti musik,
yaitu dengan mempergunakan orkestra bunyi.
c.
Wordsworth mempunyai gagasan bahwa puisi
adalah pernyataan perasaan yang imajinatif, yaitu perasaan yang direkakan atau
diangankan. Adapun Auden mengemukakan bahwa puisi itu lebih merupakan
pernyataan perasaan yang bercampur-baur.
d.
Dunton berpendapat bahwa sebenarnya puisi itu
merupakan pemikiran manusia secara konkret dan artistik dalam bahasa emosional
serta berirama. Misalnya, dengan kiasan, dengan citra-citra, dan disusun secara
artistik (misalnya selaras, simetris, pemilihan kata-
katanya
tepat, dan sebagainya), dan bahasanya penuh perasaan, serta berirama seperti
musik (pergantian bunyi kata-katanya berturu-turut secara teratur).
e.
Shelley mengemukakan bahwa puisi adalah
rekaman detik-detik yang paling indah dalam hidup. Misalnya saja
peristiwa-peristiwa yang sangat mengesankan dan menimbulkan keharuan yang kuat
seperti kebahagiaan, kegembiraan yang memuncak, percintaan, bahkan kesedihan
karena kematian orang yang sangat dicintai. Semuanya merupakan detik-detik yang
paling indah untuk direkam.
Dari
definisi-definisi di atas memang seolah-olah terdapat perbedaan pemikiran,
namun tetap terdapat benang merah. Shahnon Ahmad (dalam Pradopo, 1993:7)
menyimpulkan bahwa pengertian puisi di atas terdapat garis-garis besar tentang
puisi itu sebenarnya. Unsur-unsur itu berupa emosi, imajinas, pemikiran, ide,
nada, irama, kesan pancaindera, susunan kata, kata kiasan, kepadatan, dan
perasaan yang bercampur-baur.
B. RAGAM PUISI
Berdasarkan Zaman
Ditinjau dari segi
periodisasi kelahiran puisi kita mengenal adanya istilah puisi lama dan puisi
baru atau sering pula dibedakan atas puisi tradisional dan puisi modern.
a.
Puisi Lama
Puisi
lama adalah puisi yang lahir sebelum masa penjajahan Belanda, sehingga belum
tampak adanya pengaruh dari kebudayaan barat. Sifat masyarakat lama yang statis
dan objektif, melahirkan bentuk puisi yang statis pula, yaitu sangat terikat
pada aturan tertentu. Aturan- aturan itu antara lain: (a) Jumlah kata dalam 1
baris, (b) Jumlah baris dalam 1 bait, (c) Persajakan (rima), (d) Banyak suku
kata tiap baris, dan (e) Irama
Ciri-ciri
puisi lama diantaranya:
(a)
Merupakan puisi rakyat yang tak dikenal nama
pengarangnya, (b) Disampaikan lewat mulut ke mulut, jadi merupakan sastra
lisan, dan (c) Sangat terikat oleh aturan-aturan seperti jumlah baris tiap
bait, jumlah suku kata maupun rima.
Jenis-jenis
Puisi lama:
1) Mantra
adalah ucapan-ucapan yang dianggap memiliki kekuatan gaib,
2)
Pantun adalah puisi yang bercirikan bersajak
a-b-a-b, tiap bait 4 baris, tiap baris
terdiri dari 8-12 suku kata, 2 baris awal sebagai sampiran, 2
baris berikutnya sebagai
isi.
3)
Karmina adalah pantun kilat seperti pantun
tetapi pendek,
4)
Seloka adalah pantun berkait,
5)
Gurindam adalah puisi yang berdirikan tiap
bait 2 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat,
6)
Syair adalah puisi yang bersumber dari Arab
dengan ciri tiap bait 4 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat atau cerita,
dan
7)
Talibun adalah pantun genap yang tiap bait
terdiri dari 6, 8, ataupun 10 baris.
b.
Puisi
Baru
Puisi baru bentuknya lebih
bebas daripada puisi lama, baik dalam segi jumlah baris, suku kata, maupun
rima. Jenis-jenis Puisi baru menurut isinya, dibedakan atas:
a)
Balada
adalah puisi berisi kisah/cerita.
b)
Himne
adalah puisi pujaan untuk Tuhan, tanah air, atau pahlawan.
c)
Ode
adalah puisi sanjungan untuk orang yang berjasa.
d)
Epigram adalah puisi yang berisi
tuntunan/ajaran hidup.
e)
Romance adalah puisi yang berisi luapan
perasaan cinta kasih.
f)
Elegi adalah puisi yang berisi ratap
tangis/kesedihan.
g)
Satire adalah puisi yang berisi
sindiran/kritik.
2. Memahami
Prosa
Menurut (Ardi yudi Pradana) Prosa adalah
suatu jenis tulisan yang dibedakan dengan puisikarena variasi ritme (rhythm) yang
dimilikinya lebih besar, serta bahasanya yang lebih sesuai dengan arti
leksikalnya. Kata prosa berasal dari bahasa Latin "prosa" yang
artinya "terus terang". Jenis tulisan prosa biasanya digunakan untuk
mendeskripsikan suatu fakta atau ide. Karenanya, prosa dapat digunakan untuk
surat kabar, majalah, novel, ensiklopedia, surat, serta berbagai jenis media
lainnya.
Prosa
dibagi dalam dua bagian, yaitu prosa lama dan prosa baru
Prosa Lama
Prosa
lama merupakan karya prosa lama yang berkembang dan hidup dalam masyarakat
Indonesia terdahulu, yaitu masyarakat tradisional. Di Nusantara, prosa lama ini
awalnya muncul sebagai salah satu sastra lisan.
Prosa
lama juga sering diistilahkan dengan folklor atau cerita rakyat, yaitu cerita
di kehidupan rakyat yang telah diwariskan dari generasi – generasi sebelumnya
secara lisan. Jenis – Jenis prosa lama yaitu:
1.
Dongeng, yaitu cerita dari hasil khayalan
atau imajinasi pengarang yang belum
pernah terjadi sebelumnya. Misalnya: pinokio, putri salju, putri
duyung. Dongeng
terbagi lagi menjadi:
a.
Fabel, yaitu cerita rekaan tentang hewan
sebagai tokoh cerita, yang mana hewan
tersebut seakan–akan seperti manusia yang
memiliki kemampuan berbicara dan
bersikap layaknya manusia. Misalnya:
Cerita Si Kancil yang Cerdik, Kera
Menipu Harimau, dan lainnya.
b.
Legenda, yaitu dongeng
mengenai kejadian alam, maupun asal – usul suatu
tempat, kejadian atau benda, di suatu
daerah atau tempat. Contoh: Malin
Kundang, Asal Muasal Tangkuban Perahu,
Asal Muasal Candi Prambanan, dan
lain sebagainya.
c.
Mite/Mitos adalah cerita yang berlatar
belakang sejarah atau pun hal yang telah
dipercayai orang banyak bahwa cerita
tersebut pernah terjadi serta mengandung
sesuatu yang gaib dan memiliki kesaktian
yang luar biasa. Misalnya: Nyi Roro
Kidul.
d.
Cerita Penggeli Hati/Dongeng Jenaka, sering
juga diistilahkan sebagai cerita
noodlehead, hal ini karena terdapat dalam
hampir di semua budaya rakyat. Prosa
jenis ini mengandung unsur komedi (lucu),
kemustahilan, omong kosong,
kedunguan dan ketololan, namun biasanya
ada muatan kritik terhadap perilaku
manusia / mayarakat dalam ceritanya.
Misalnya adalah Pak Belalang, Cerita Si
Kabayan, Lebai Malang, dan lain-lain.
e.
Parabel/Cerita Perumpamaan, yaitu dongeng
yang mengandung perumpaman,
f.
kiasan atau ibarat yang besifat mendidik dan
memberi nasihat. Misalnya:
memberikan nasihat orang pelit dengan
cerita seorang Haji Bakhil.
g.
Sage, yaitu kisah yang menceritakan
keberanian, kehebatan tokoh dalam
sejarah. Misalnya: Airlangga, Kerajaan
Majapahit.
h.
Hikayat, yaitu cerita, baik sejarah ataupun
cerita roman fiktif yang bertujuan
untuk pelipur lara, membangkitkan semangat
juang, atau pun sekedar
meramaikan pesta. Contoh: Hikayat Seribu
Satu Malam, Hikayat Hang Tuah,
dan lain-lain.
i.
Kisah, yaitu karya sastra lama berisi cerita
mengenai perjalanan atau pelayaran
seseorang dari suatu tempat ke tempat
lainnya. Misalnya: Kisah Perjalanan
Abdullah Menuju Negeri Kelantan, Kisah
Abullah Menuju Jeddah, dan lainnya.
j.
Sejarah/Tambo, yaitu kisah yang berkaitan
dengan peristiwa dan tokoh sejarah.
Misalnya: Sejarah Melayu.
Prosa Baru
Prosa
baru merupakan karya prosa yang berkembang setelah mendapat pengaruh dari
sastra atau kebudayaan asing. Beberapa jenis prosa baru, yaitu:
1.
Cerita Pendek/Cerpen
Cerita
Pendek yang biasa disingkat cerpen, dapat diartikan sebagai cerita yang
berbentuk prosa pendek. Ukuran pendek yang dimaksud bersifat relatif. Para sastrawan berpendapat bahwa parameter
pendek dalam cerpen yaitu ketika karangan tersebut selesai dibaca dalam satu
kali duduk, tidak lebih dari satu jam. Ada juga sastrawan yang berpendapat
bahwa ukuran pendek ini didasarkan pada keterbatasan unsur – unsur
pengembangnya. Seperti sedikitnya tokoh, setting, alur, dll. Cerpen mempunyai
efek tunggal serta tidak kompleks. Cerpen umumnya menceritakan sedikit
pengalaman yang paling menarik dalam kehidupan tokoh/pelaku utamanya.
Berdasarkan segi panjang
ceritanya, cerpen dibagi menjadi 3 jenis meliputi:
a.
Cerpen yang pendek (short short story) yang
banyak katanya kurang lebih 500-an kata. Cerpen jenis cerpen
yang pendek (short short story) ini disebut juga sebagai cerpen mini. Contoh
cerpen mini yaitu cerpen yang berjudul Ti Pulpen Nepi Ka Pajaratan Cinta.
b.
Cerpen yang memiliki panjangnya medium
(middle short story). Cerpen yang memiliki panjang sedang (middle short story)
biasanya cerpen-cerpen yang dimuat di surat kabar.
c.
Cerpen yang panjang (long short story) yang
biasanya mencapai puluhan ribu kata. Cerpen yang tergolong long short story
biasanya dimuat di majalah. Cerpen berjudul ”Sri Sumariah” dan “Bawuk” karya Umar Khayam juga dikategorikan ke dalam
kelompok cerpen yang panjang ini.
2.
Novelet
Novelet merupakan jenis
prosa modern yang kuantitas panjang ceritanya lebih panjang dari cerpen, namun
lebih pendek dari novel. Jadi, panjangnya di antara novel dan cerpen. Jumlah
halaman novelet sekitar 60 s.d 100 halaman. Unsur – unsur novelet lebih luas
dari cerpen seperti tokoh, alur, latar, dan unsur-unsur yang lain.
3.
Novel
Kata
“novel” merupakan kata serapan dari bahasa Italia, “novella”, yang artinya
barang baru berukuran kecil. Pada mulanya, ditinjau dari segi panjang cerita,
novella sama dengan cerita pendek dan novelet. Setelah Italia, novel kemudian
berkembang di Amerika dan Inggris. Novel pada wilayah ini mulanya berkembang
dari cerita berbentuk naratif non-fiksi, seperti biografi, surat, dan sejarah.
Tetapi seiring berkembangnya masyarakat dan waktu, novel tidak hanya berupa
data – data nonfiksi, pengarang dapat mengubah cerita dalam novel sesuai dengan
imajinasi dan kreatifitas yang dikehendakinya.
4.
Roman
Roman
merupakan jenis prosa yang lebih dahulu ada sebelum novel. Roman berasal dari
jenis sastra romansa dan epik abad pertengahan. Jenis sastra ini berkisah
tentang hal-hal yang bersifat romantis, penuh angan-angan, biasanya cerita
roman memiliki tema percintaan dan kepahlawanan. Istilah roman dalam sastra
Bahasa Indonesia mengacu pada cerita-cerita yang ditulis dalam bentuk bahasa
roman (bahasa rakyat Prancis pada abad pertengahan) yang masuk pada sastra Indonesia
melalui kesusastraan Belanda
5.
Riwayat
Riwayat
lebih umum dikenal dengan biografi, yaitu karya prosa yang merupakan kisah
nyata menceritakan seluruh kisah/pengalaman hidup seseorang tokoh dari kecil
hingga meninggalnya.
6.
Kritik
Suatu
pernyataan atau opini yang bersifat objektif untuk memberikan sebuah penilaian
tentang baik buruknya sebuah hasil karya.
7.
Resensi
Karya
prosa yang menguraikan sebuah penilaian tentang suatu karya dari banyak segi,
sehingga sebuah karya tersebut patut atau tidaknya untuk dinikmati.
8.
Esai
Esai
adalah karya prosa yang mengupas tentang penilaian pribadi seseorang tentang
sebuah karya.
Terkait
dengan pengelompokannya, prosa dapat dikelompokkan berdasarkan kategori usia
pembaca, seperti kelompok sastra anak, sastra dewasa dan sastra remaja.
Pengelompokan jenis sastra disesuaikan dengan karakteristik usia pembaca, baik
dari aspek isi maupun cara penyajiannya. Sebagai contoh, sastra anak (cerpen
anak, novelet anak, novel / roman anak) dari segi isi, sastra anak menyuguhkan
permasalahan -permasalahan dan cara pandang yang disesuaikan dengan dunia serta
lingkungan anak-anak. Begitu juga dengan cara penyajiannya lebih menggunakan
pola penyajian dan bahasa sederhana yang mudah dipahami anak-anak. Sastra
remaja berbeda dengan sastra anak. Persoalan dan penyajiannya disesuaikan
dengan kehidupan remaja, seperti percintaan, petualangan, persahabatan, dan
lain sebagainya. Berikut penjelasannya secara detil:
Dilihat
dari sejarah kelahirannya, tidak ada yang bisa memastikan pelopor awal lahirnya
chicklit dan teenlit. Ada yang berpendapat pelopor jenis karya ini adalah
novelis Helen Fielding yang berasal dari Amerika Serikat melalui karyanya yang
memiliki judul Bridget Jones’s Diary. Namun, beberapa kritikus menyanggah bahwa
J.K Rowling-lah yang menjadi pelopopornya melalui karyanya berjudul Harry
Potter. Di Indonesia, jenis novel chiklit dan teenlit ini identik dengan
kehidupan remaja di zaman globalisasi. Para penulisnya yaitu para penulis yang
rata-rata masih remaja, sehingga memahami dunia atau kehidupan remaja.
Memahami Pantun
Pantun
merupakan salah satu jenis puisi lama yang sangat luas dikenal dalam
bahasa-bahasa Nusantara. Pantun berasal dari kata patuntun dalam bahasa
Minangkabau yang berarti "petuntun". Dalam bahasa Jawa,
misalnya, dikenal sebagai parikan, dalam bahasa Sunda dikenal sebagai
paparikan, dan dalam bahasa Batak dikenal sebagai umpasa (baca: uppasa).
Pantun pada mulanya merupakan sastra lisan namun sekarang dijumpai juga
pantun yang tertulis.
Secara umum, ciri – ciri
pantun sebagai berikut:
1.
Tiap bait terdiri atas 4 baris (larik)
2.
Tiap baris terdiri atas 8 sampai 12 suku kata
3.
Bersajak
silang (a-b-a-b) dan (a-a-a-a)
4.
Baris
pertama dan kedua adalah sampiran, sedangkan baris ketiga dan keempat adalah isi.
Bentuk
pantun terdiri atas dua bagian: sampiran dan isi. Sampiran adalah dua baris
pertama, kerap kali berkaitan dengan alam (mencirikan budaya agraris masyarakat
pendukungnya), dan biasanya tak punya hubungan dengan bagian kedua yang
menyampaikan maksud selain untuk mengantarkan rima/sajak. Dua baris terakhir
merupakan isi, yang merupakan tujuan dari pantun tersebut. Karmina dan talibun
merupakan bentuk kembangan pantun, dalam artian memiliki bagian sampiran dan
isi. Karmina merupakan pantun "versi pendek" (hanya dua baris),
sedangkan talibun adalah "versi panjang" (enam baris atau lebih).
Jenis-jenis
Pantun
Berdasarkan
isinya pantun dapat dibagi menjadi beberapa jenis seperti pantun nasehat, pantun
agama, pantun muda, pantun dagang, pantun anak, pantun jenaka dan pantun
teka-teki.
b. Menjelaskan
tata cara mengubah puisi dalam bentuk prosa
Mengubah
Puisi ke dalam bentuk Prosa atau disebut parafrase. Yang dimaksud
parafrase adalah mengubah puisi menjadi bentuk sastra lain (prosa). Hal itu
berarti bahwa puisi yang tunduk pada aturan-aturan puisi diubah menjadi prosa
yang tunduk pada aturan-aturan prosa tanpa mengubah isi puisi tersebut. Lebih
mudahnya parafrase puisi adalah memprosakan puisi. Perlu diketahui bahwa
parafrase merupakan metode memahami puisi, bukan metode membuat karya sastra.
Dengan demikian, memparafrasekan puisi tetap dalam kerangka upaya memahami
puisi.
Berikut
ini langkah-langkah parafrase puisi:
1.
Bacalah puisi berkali-kali hingga kamu paham
akan isinya.
2.
Tambahkan kata-kata atau tanda baca-tanda
baca yang sengaja dihilangkan penyairnya. Ingat, penambahan kata-kata atau
tanda baca harus sesuai dengan pemahamanmu terhadap isi puisi. Penambahan
kata-kata atau tanda baca ditulis dalam tanda kurung.
3.
Ubahlah puisi (beserta kata-kata dan tanda
baca yang telah kamu tambahkan tadi) ke dalam bentuk prosa.
Contoh:
MENYESAL
Pagiku
hilang sudah melayang,
Hari
mudaku sudah pergi,
Sekarang
petang datang membayang,
Batang
usiaku sudah tinggi.
Aku
lalai di hari pagi,
Beta lengah di masa muda,
Kini hidup meracun hati,
Miskin ilmu, miskin harta.
Ah, apa guna kusesalkan,
Menyesal tua tiada berguna,
Hanya menambah luka sukma.
Kepada yang muda
kuharapkan,
Atur barisan di hari pagi,
Menuju kearah padang bakti.
a. Mencari
Arti Kata yang Sulit.
Hilang: tidak ada
lagi/lenyap/tidak kelihatan.
Melayang: pergi jauh
terbang / hilang.
Petang: waktu dudah tengah
hari.
Membayang: kelihatan seperti
bayang-bayang/kelihatan samar-samar.
Batang: bangkai/mayat/ia
telah menjadi
Lalai: kurang hati-hati/
tidak mengindahkan.
Lengah: bermalas-malas.
Beta: aku/saya.
Meracun hati: penuh
derita/tidak bahagia.
Luka sukma: sakit hati.
Atur barisan: Merencanakan
segala sesuatu mulai sekarang.
Padang bakti: tempat yang
di hormati.
b. Parafrasa
Terikat
MENYESAL
(Kini) Pagiku Hilang Sudah
Melayang (entah kemana).
(Sekarang) Hari Mudaku
Sudah Pergi (jauh tak kan pernah kembali).
Kini (hanya) Petang (yang)
Datang Membayangi (alam pikiranku).
(Yang kini) Batang Usiaku
Sudah (mulai) Tinggi.
(Dulu) Aku Lalai di Hari
Pagi,
(Karena) Beta Lengah di
Masa Muda (yang masih suka bermalas-malasan).
(Hingga) Kini Hidup
(menjadi) Peracun Hati (tak bias berbuat apa-apa lagi).
c. Menulis
puisi yang baik dan benar
c.1 Menulis puisi yang baik
dan benar
Sebenarnya
Ada beberapa cara yang mudah dan bisa digunakan untuk mengasah keterampilan
kamu saat menulis puisi yang baik dan benar. Contohnya Puisi dapat ditulis
berdasarkan catatan harian, cara ini tergolong mudah karena kamu bisa membuat
serta merangkai kata dengan mudah menggunakan isi catatan harian yang kamu
miliki. Untuk cara menulis puisi berdasarkan catatan harian, berikut ini
langkah-langkahnya:
1. Pertama kali, kamu baca dan renungkan isi catatan
harian yang kamu miliki.
2. Kemudian, hapus atau coretlah kata-kata yang tidak
penting dan tambahkan kata-kata yang menurut
kamu menarik untuk disertakan.
3. Hapuslah baris-baris yang menurut kamu tidak penting.
4. Atur dan urutkan kembali baris-baris yang sudah
kamu pilih.
5. Bacalah kembali hasil akhir baris-baris tadi.
6. Untuk langkah terakhir, suntinglah kembali
baris-baris tadi sehingga menjadi baris-baris puisi yang menarik.
Contoh Puisi
AKU
Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus
kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa
berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak
perduli
Aku mau hidup seribu tahun
lagi
c.2 Menulis pantun
yang baik dan benar
Sajak
baris pertama pantun sama dengan sajak akhir baris ketiga. Begitu pula sajak
akhir baris kedua sama dengan sajak akhir baris keempat. Pantun yang rumpang
dapat kita lengkapi dengan sampiran atau isi yang tepat. Dalam menulis baris
pantun harus diperhatikan sajak yang terdapat dalam pantun.
Contoh:
Jalan-jalan dekat pohon,
(akhir baris adalah hon)
tempat indah hijau rumput (akhir
baris ut)
Maka isi yang tepat untuk melengkapi
pantun di atas adalah:
Pada Tuhan kita memohon,
sesuai ajaran yang kita
anut
Berikut
ini adalah jenis-jenis pantun dan contohnya
1. Pantun Nasihat
Pantun nasehat merupakan
rangkaian kata-kata yang mempunyai makna mengarahkan atau menegur seseorang
untuk menjadi lebih baik.
·
Di tepi kali saya menyinggah
·
Menghilang penat menahan jerat
·
Orang tua jangan disanggah
·
Agar selamat dunia akhirat
·
Pinang muda dibelah dua
·
Anak burung mati diranggah
·
Dari muda sampai ke tua
·
Ajaran baik jangan diubah
2. Pantun Muda
Pantun muda adalah pantun yang diperuntukan bagi kaum muda (remaja), sehingga pantun muda ini biasanya berhubungan dengan masalah cinta.
Pantun muda adalah pantun yang diperuntukan bagi kaum muda (remaja), sehingga pantun muda ini biasanya berhubungan dengan masalah cinta.
·
Walaupun enak makan dengan bakwan
·
Lebih enak makan dengan tahu
·
Walaupun enak jalan dengan teman
·
Lebih enak jalan dengan kamu
3.
Pantun Anak-anak
a.
Pantun bersuka cita
Pantun bersuka cita berisi
ungkapan perasaan kegembiraan atau kebahagian
Contoh:
Burung kenari burung dara
(sampiran)
Terbang kearah angkasa luas
(sampiran)
Hati siapa tak gembira (isi
– arinya setiap anak akan bahagia)
Karena beta telah naik
kelas (isi – artinya telah naik kelas)
b. Pantun
berduka cita
Pantun berduka cita
merupakan pantun isinya mengungkapan kesedihan atau duka.
Contoh:
Memetik duku di kota Kedu
(Sampiran)
Membeli tenda uangnya
hilang (Sampiran)
Menangis aku tersedu-sedu
(Isi – artinya aku menangis hingga terisak-isak)
Mencari bunda belum juga
pulang (isi – artinya tangisku karena ibu lama tidak pulang ke rumah)
4. Pantun
nasib atau pantun dagang
Pantun nasib atau pantun
dagang adalah pantun yang menggambarkan keadaan seseorang.
Contoh:
Pergi ke sekolah mampir
Cimahi (sampiran)
Depan bukit lihat belalang
(sampiran)
Mungkin memang sudah takdir
Illahi (isi – artinya sepertinya sudah ketetapan Tuhan)
Badan sakit tertinggal
tulang (isi – artinya memiliki penyakit yang tidak kunjung sembuh)
5. Pantun
perkenalan
Pantun perkenalan merupakan
pantun yang mengungkapkan pengenalan kepada seseorang dan ucapan ketika
berkenalan.
Contoh:
Dari mana hendak kemana
(sampiran)
Manggis kupas dengan pisau
(sampiran)
Jikalau boleh kami bertanya
(Isi – artinya seseorang ingin berkenalan)
Gadis manis siapa namamu
(isi – artinya kepada seorang gadis ia menanyakan namanya).
6. Pantun Persahabatan
Pantun persahabatan
merupakan pantun yang bertema persahabatan atau hubungan dengan teman.
Contoh pantun persahabatan:
Lima enam tujuh delapan
(sampiran)
Di Pekalongan beli batik
(sampiran)
Kalau kau cari teman (Isi –
artinya ketika kamu memilih teman atau sahabat)
Seorang teman harus baik
(Isi – artinya pilihlah teman yang baik)
7. Pantun
Adat
Pantun adat merupakan
pantun yang isinya mengandung tentang adat istiadat dan kebudayaan.
Contoh:
Menanam kelapa di tanah
Bukum (sampiran)
Tinggi sedepa telah berbuah
(sampiran)
Adat bermula dari hukum
(Isi – artinya adat suatu suku awalnya berasal dari aturan)
Hukum sandar dari
Kitabullah (Isi – artinya aturan aturan yang menjadi adat bersandar dari kitab
Allah)
8. Pantun Agama
Pantun agama adalah pantun
yang berisi tentang hal-hal yang berhubungan
dengan keagamaan.
Contoh:
Banyak bulan perkara bulan
(sampiran)
Tidak semulia bulan
puasa(sampiran)
Banyak tuhan perkara tuhan
(Isi – artinya di dunia ini banyak sekali agama dengan banyak Tuhannya)
Tidak semulia Tuhan Yang
Esa (Isi – artinya namun hanya satu yang mulia yaitu
Tuhan yang esa)
BAB
III
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan
penjelasan tentang puisi, prosa dan pantun diatas dapat kita tarik benang merah
yaitu kesimpulan berbagai cara supaya lebih mudah untuk memahami dan menulis
sebuah puisi, prosa dan pantun itu mudah dan menyenangkan sehingga tulisan dari
penulis diatas dapat bermanfaat untuk membantu mencerdaskan kehidupan bangsa.
Terlepas
dari itu kita hendaknya teliti dalam meningkatkan penulisan suatu karangan baik
puisi, prosa dan pantun. Sehingga penulisan karya sastra tidak menyalahi tata
cara penulisan dalam karya sastra bahasa Indonesia.
Demikian
uraian dari kami semoga makalah ini sekiranya dapat bermanfaat bagi kita semua.
Terima kasih atas perhatianya
Daftar
Pustaka
http://syamarjen.blogspot.com/2013/02/makalah-puisi-prosa-dan-pantun.html
Semi, M. Atar. 1993.
Anatomi Sastra. Bandung: Angkasa Raya.
Amnudin. 2000. Pengantar Apresiasi
Karya Sastra. Bandung: PT. Sinar Algensindo.
Terus kembangkan
BalasHapus